| Dari Aceh Sampai Belanda |
|
There are no translations available. Para Pemenang IRA 2009
Kamis, 12 Februari 2009 menjadi hari yang takkan terlupa. Indonesian Radio Awards 2009 telah memilih karya featureku yang berjudul Pencemaran Limbah Exxon Mobil di Aceh Utara menjadi juara kedua. Hari itu sebenarnya aku tidak terlalu banyak berharap bahwa karyaku itu akan mendapatkan penghargaan. Makanya sangat kaget ketika judul featureku disebut oleh Dewan Juri, kemudian berlanjut namaku yang dipanggil untuk naik ke atas panggung menerima penghargaan. Selama ini memang banyak kompetisi yang aku ikuti, namun baru itulah karyaku mendapat penghargaan.
Pemberian penghargaan ini memberi kesempatan untuk mengenal dan terlibat langsung dalam redaksi di Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum, Belanda selama dua pekan. Namun lelah langsung sirna, saat aku tiba di sana. Negeri kecil yang dulu menjajah Indonesia itu ternyata memberikan pesona tersendiri. Warga yang cukup ramah, apalagi penerimaan dari pihak Radio Nederland Wereldomroep ( RNW ) yang begitu baik. Sesampai di bandara Schiphol, Amsterdam aku sudah dijemput oleh Head Indonesian Department, Sirtjo Koolhof. Selama dua pekan, aku diinapkan di Hotel Bastion, Bussum. Jaraknya cukup dekat dengan RNW di Hilversum. Hanya ditempuh dengan 1 kali naik bus. Pengalaman yang sangat berharga ketika aku harus beradaptasi di lingkungan yang betul-betul baru bagiku. Banyak hal baru kudapatkan di Radio Nederland Wereldomroep ( RNW ) di Belanda. Salah satu diantaranya mengenai sistem redaksi sebuah media radio dengan 10 bahasa. RNW menjadikan website sebagai media utama untuk menyebarluaskan informasi. Dari mulai artikel, video, hingga audio bisa diunduh dengan mudah. Pendengar setia yang ketinggalan siaran radio bisa mendengarkan ulang melalui website. Acara-acara yang disiarkan di RNW cukup bervariasi pengemasannya. Untuk lebih detilnya bisa dilihat dan didengarkan melalui www.ranesi.nl. Beberapa acara di Ranesi ikut melibatkanku siaran, seperti acara Dimensi, Kamera, dan lainnya. Bagi seorang jurnalis radio, pengemasan program yang sangat bervariasi itu sangat menantangku. Membuat kemasan radio yang lebih variatif. Jika nyaman dan akrab bagi pendengar, pasti program kita akan selalu ditunggu oleh pendengar. Begitu yang ada dipikiranku waktu itu. Salah satu yang sangat mengilhamiku selama di Belanda adalah bagaimana membuat karya dokumenter radio. Aku berharap suatu saat bisa mengerjakannya. Menjadi jurnalis, bagi saya adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Melalui profesi ini saya belajar memahami karakter orang. Mengetahui apa yang dialami masyarakat yang sesungguhnya. Mengharuskan kita untuk tegas menyatakan bahwa yang salah dan yang benar. Melihat dari dekat bagaimana si kaya menjalani hidupnya, dan sebaliknya si miskin harus bersusah payah bangkit. Itulah beberapa hal yang akhirnya menempa hidup saya. Menjalani semuanya yang enak tentu tidak mudah, tapi harus melalui perjuangan. Inilah yang memotivasi saya sebenarnya untuk terus berkarya dan bisa bermanfaat buat orang lain. Tatik Yuniarti
|